Perjalanan Musik Keroncong Di Indonesia

Perjalanan Musik Keroncong Di Indonesia

Perjalanan Musik Keroncong Di Indonesia – Hampir keseluruhan generasi modern tidak mengenal musik Keroncong, yang ketinggalan zaman dan membuat sakit kepala. Melestarikan musik Keroncong hampir mendekati kepunahan, tidak tersentuh sama sekali industri musik saat ini.

Hanya segelintir masyarakat yang sudah memiliki umur diatas 50-an masih setia mendengarkan ‘laras’ Keroncong

Dan siapa nyana Keroncong bukan asli musik Indonesia, adalah bangsa Portugis yang mengusung pada abad ke 12 saat datang ke tanah Jawa. Tetapi, mereka membawa bibit Keroncong pada abad ke 16, pada saat  Belanda menjajah ke Indonesia untuk menguasai Malaka (Ade Soekino, 1995, Pangeran Jayakarta)

Pada abad ke 16 inilah, bangsa Portugis sebagai budak bebas jaman pendudukan Belanda di Indonesia yang bermukim sekitar Cilincing atau Kampoeng Toegoe membawa pengaruh fado ke Indonesia. Fado merupakan tradisi tutur dalam bermusik di Portugis. Di saat masa senggang mereka memainkan musik dan bernyanyi dengan irama yang lambat diikuti rajao (gitar kecil berdawai lima), biola, gitar, cello, dua jenis ukulele (cak dan cuk), rebana dan suling.

Perjalanan Musik Keroncong Di Indonesia

Keunikan Keroncong salah satunya yaitu mempunyai bunyi cak, cuk dan cello. https://www.griyabet88.com/agen-daftar-sabung-ayam-online-bandar-judi-s128/ Cak dan cuk-lah khas dari Keroncong ini dengan suara creng-crongnya, cak dan cuk pula yang merupakan evolusi dari croucho ini.

-Masa Keroncong Modern (1960-2000)

Perkembangan keroncong hanya pada daerah Solo dan sekitarnya, tetapi datang bermacam gaya baru yang berbeda dengan Masa Keroncong Abadi (termasuk musisinya), dan merupakan pembaruan sesuai dengan lingkungannya.

Mulai Masa keroncong modern (1960-2000) semua aturan baku (pakem) Musik Keroncong tidak berlaku, karena mengikuti aturan baku (pakem) Musik Pop yang berlaku universal, misalnya tangga nada minor, moda pentatonis Jawa/Cina, rangkaian harmoni diatonik dan kromatik, akord disonan, sifat politonal atau atonal (pada campursari), s128 tidak megenal lagi pakem bentuk keroncong asli atau stambul, ada irama nuansa dangdut (congdut), mulai tahun 1998 musik rap mulai masuk (Bondan Prakoso), dlsb.

Berkembangnya musik Keroncong pesat di wilayah Jawa hingga melahirkan Langgam Jawa

Perpaduan musik asli Keroncong dengan sentuhan sitar dan gamelan lalu dinyanyikan dengan lagu-lagu bernuansa tradisional Jawa

– Langgam Jawa

Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa, yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh. Tahun 1968 Langgam Jawa berkembang menjadi Campursari.

Umumnya mempunyai struktur lagu pop yaitu A – A – B – A atau juga A – B – C – D dangan jumlah 32 birama. Lagu Langgam Jawa yang populer sejak tahun 1958 adalah ciptaan Anjar Any (1936-2008):

Yen Ing Tawang Ana Lintang (Tawang dalam Bahasa Jawa berarti: awang-awang, langit, dan makna lain nama suatu desa di Magetan, Kalau di Langit Ada Bintang). Langgam Jawa terkenal pertamanya oleh Waljinah yang pernah meraih juara tingkat pendidikan SMP di RRI Solo tahun 1958.

Semenjak tahunnya revolusi Keroncong menjadi tonjolan musik perjuangan dengan melahirkan Maestro Gesang ‘Bengawan Solo’, daftar s128 sampai tercapailah perjalanannya musik Keroncong pun menerbitkan nama-nama Legendaris : Ismail Marzuki, Kusbini, Mantous, Tan Tjeng Bok,  Mus Mulyadi, Hasbi dan penyanyi wanita muda Sundari Soekotjo.

Perjalanan Musik Keroncong Di Indonesia

– Keroncong Beat

Dimulai oleh Yayasan Tetap Segar oleh Rudi Pirngadie, di Jakarta pada tahun 1959 dan dapat mengiringi lagu barat pop (mau melangkah lebih bersifat universal). Pada waktu itu Idris Sardi ikut tur ke New York World’s Fair Amerika Serikat dengan biola tahun 1964 dengan maksud mau memperkenalkan lagu pop barat (I left my heart in San Fransico, pada waktu itu tahun 1964 lagu ini merupakan salah satu hit di dunia) dengan iringan keroncong beat, namun dia kena denda melanggar hak cipta akibat tanpa izin.

Dengan Keroncong Beat maka berbagai lagu (bukan dengan rangkaian harmoni keroncong, termsuk kunci Minor) dapat dinyanyikan seperti La Paloma, Monalisa, Widuri, Mawar Berduri, dll.

– Campur Sari

Di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) dimulai tahun 1968 Manthous mengenalkan gabungan musik gamelan dan musik keroncong, yang selanjutnya dikenal sebagai Campursari. Sekarang daerah Solo, Sragen, Ngawi, dan sekitarnya, dikenal sebagai pusatnya para artis musik campursari.

– Keroncong Koes-Plus

Koes Plus dikenal sebagai pemula musik rock di Indonesia, Dimulai sekitar tahun 1974 juga berjasa dalam musik keroncong yang rock. Keroncong Pertemuan adalah Keroncong Koes Plus dengan jenis bentuknya campuran (dalam bahasa Belanda dikenal vorm atau Inggris- combine form) antara Stambul II dengan langgam Keroncong.

– Keroncong Dangdut (Congdut)

Keroncong dangdut (Congdut) yaitu jawaban terhadap memuncaknya pengaruh musik dangdut dalam musik populer di Indonesia sejak 1980-an. Seiring dengan menguatnya campur sari di pentas musik populer etnis Jawa, sejumlah musisi, konon dimulai dari Surakarta, memasukkan unsur beat dangdut ke dalam lagu-lagu langgam Jawa klasik maupun baru. Didi Kempot adalah tokoh utama gerakan pembaruan ini. Lagu-lagu yang terkenal antara lain Stasiun Balapan, Sewu Kuto.

Masa Keroncong Modern adalah era kejayaan musik keroncong, di mana terdengar di mana-mana jenis musik yang telah disebut di atas seperti Langgam Jawa, Keroncong Beat, Campursari, koes Plus dan terakhir dengan Congdut dari Didi Kempot, hingga ke Suriname dan Belanda (2004-2008). Konon, ini merupakan puncak kejayaan Musik Keroncong, sehingga Gesang khawatir bahwa keroncong akan mati (2008, ucapan dia sebelum wafat).

– Masa Keroncong Millenium (2000-kini)

Walaupun musik keroncong di era millenium belum menjadi bagian dari industri musik pop Indonesia, tetapi beberapa pihak masih mengapresiasi musik keroncong. Keroncong Merah Putih, kelompok keroncong berbasis Bandung, masih cukup aktif melakukan pertunjukan. Selain itu, Bondan Prakoso dan grupnya Bondan Prakoso & Fade 2 Black, menciptakan komposisi berjudul “Keroncong Protol” yang berhasil memadukan musik gaya rap dengan musik latar belakang irama keroncong. Sejak tahun 2008, Solo Internasional Keroncong Festival, Harmony Chinese Music Group membuat suasana baru  dengan mencampurkan unsur alat musik tradisional Tionghoa dan memberinya nama Keroncong Mandarin.

Bahkan kini musik keroncong dapat dijadikan sebagai pertunjukan budaya di kancah internasional. Para turis yang berkunjung ke daerah seperti Yogyakarta, Jakarta, atau daerah Jawa lainnya selalu penasaran dan tertarik akan musik keroncong yang terkadang disajikan pada suatu konser besar, bahkan hingga pengamen jalanan saat ini sudah sangat kreatif dalam melakukan aksinya dengan mencampurkan musik keroncong dan jenis musik lainnya. Namun tak jarang juga saat ini anak-anak remaja kurang menyukai musik satu ini karena merasa tidak kekinian. Tetapi, kita harus tetap bangga dan melestarikan musik keroncong ini.