Persimpangan Pendidikan Musik dan Diplomasi Budaya

Persimpangan Pendidikan Musik dan Diplomasi Budaya – Angklung adalah idiofon bambu yang dibuat dengan memasang dua sampai empat tabung bambu bertingkat pada sebuah bingkai.

Persimpangan Pendidikan Musik dan Diplomasi Budaya

Saat digoyang, angklung dapat menghasilkan dua hingga empat nada yang berbunyi satu oktaf (tergantung jumlah tabung) atau dua hingga empat nada yang terdengar selaras.

Alat musik angklung dapat digantung dan diatur menjadi baris dan dimainkan secara solo, atau angklung individu dapat didistribusikan di antara kelompok dan dimainkan dengan cara seperti hocket, di mana setiap pemain bertanggung jawab untuk membunyikan satu nada dalam pola atau melodi yang diinginkan (mirip untuk menyerahkan lonceng).

Etnomusikolog Sunda Juju Masunah memperkirakan penggunaan angklung di Indonesia pada abad ketujuh Masehi dan telah membahas pentingnya angklung sebagai bentuk pengiring musik untuk parade, ritus peralihan, dan ritual agraria, seperti menanam, memanen, dan menghormati dewi padi Dewi Sri atau Dewi Padi.

Secara tradisional, set angklung individu disetel ke tangga nada tritonic atau tetratonic dan dimainkan secara berirama dan siklis dengan gaya hocket. Masunah dan sarjana lain dari Universitas Pendidikan Indonesia (Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung, Jawa Barat, selanjutnya UPI) juga telah mendokumentasikan lima gaya daerah angklung disetel ke variasi pentatonik, skala lima nada. Salendro.

Selain variasi daerah yang terus dibawakan, angklung juga sering disetel dalam tangga nada salendro, madenda, dan degung Jawa Barat atau Sunda. (Jawa Barat juga dikenal sebagai Sunda, dan tangga nada serta jenis gamelan yang dimainkan di sana disebut sebagai Sunda).

Angklung sering digabungkan dengan permainan gamelan Sunda untuk mengiringi tarian dan teater boneka, dan bila disetel dalam tangga nada Jawa Barat, jenis angklung ini disebut angklung Sunda, atau angklung Sunda.

Sementara angklung sekarang menjadi media musik populer di Jawa Barat, Perris telah menggambarkan bagaimana instrumen bambu disingkirkan (oleh orang Barat dan pribumi) karena preferensi untuk instrumen gamelan yang ditampilkan pada fungsi colonial.

Ia juga mencatat bahwa pada tahun 1920-an angklung dianggap sebagai mainan untuk anak-anak, dan pada tahun 1930-an dianggap sebagai instrumen kasar yang digunakan oleh pengemis untuk menarik perhatian orang yang lewat. Penerapan nada diatonis dan kromatik Barat pada angklung oleh “bapak angklung”,

Daeng Soetigna, pada tahun 1930-an, menyebabkan kebangkitan luas dan minat baru pada instrumen tersebut. Sebagai seorang guru di sekolah Belanda pada waktu itu, Soetigna akrab dengan laras Barat dan lagu-lagu rakyat, dan ia berhipotesis bahwa angklung yang disetel secara diatonis dan kromatis dapat menjadi alat yang efektif dalam pendidikan musik.

Setelah mendekati seorang perajin di desanya dan belajar mengukir set diatonisnya sendiri, Soetigna memperkenalkan angklung diatonis kepada kelompok anak laki-laki dan ruang kelas sekolah. Mengikuti inovasi ini, keroncong, dan bahkan lagu-lagu rakyat dan populer Barat.

Karena angklung baru ini dapat digunakan untuk memainkan lagu-lagu daerah dan musik nasionalistik baru yang muncul di kepulauan Indonesia pada waktu itu (sebagian besar diatonis), angklung yang disetel dalam skala diatonis kemudian dikenal sebagai “angklung Indonesia”, atau Angklung Indonesia.

Angklung Indonesia sebagai alat musik diatonis menempati ruang yang menarik dalam konteks diplomasi budaya Indonesia. Angklung yang disetel secara diatonis harus terus hidup berdampingan dengan angklung tradisional Sunda, berbagai tradisi gamelan nusantara, dan beragam bentuk musik lainnya yang ditemukan di seluruh negeri.

Ketika memilih bentuk musik apa yang akan digunakan untuk diplomasi budaya Indonesia, semua tradisi ini bisa dibilang dapat diambil, dan beberapa bahkan mungkin dianggap lebih “asli”. Meskipun saya tidak mengabaikan pentingnya tradisi musik lainnya untuk diplomasi budaya Indonesia,

Saung Angklung Udjo (SAU)

Mengikuti jejak Daeng Soetigna (yang disebut bapak angklung), salah satu muridnya, Udjo Ngalagena, juga mempromosikan penggunaan angklung secara luas dalam pendidikan musik Indonesia. Pada tahun 1966 ia mendirikan Saung Angklung Udjo, sebuah pusat pertunjukan dan pembelajaran angklung di Padasuka, Bandung, Jawa Barat.

Saat ini, SAU dijalankan oleh anak-anak dan keluarga Udjo, dan terus sangat aktif mempromosikan angklung dan berbagai kesenian Sunda dan Indonesia. Selain mengajar kelas musik dan tari kepada siswa di komunitas Padasuka, pusat ini menampilkan pertunjukan wisata “Bambu Sore” setiap hari dan merupakan rumah bagi pabrik kerajinan bambu yang mengkhususkan diri dalam suvenir bambu dan instrumen angklung berkualitas tinggi.

Sam Udjo, salah satu informan saya dan anggota senior keluarga Udjo, juga sangat aktif dalam penjangkauan angklung di desa-desa dan sekolah-sekolah, dan dia mendapatkan dukungan untuk pendidikan angklung dari pemerintah Indonesia.

Setelah menghabiskan beberapa minggu di pusat SAU pada tahun 2011, 2012, dan 2016, saya dapat mengamati berbagai kegiatan pendidikan dan pertunjukan yang terjadi di sana setiap hari. 11 Center tersebut ramai dengan siswa yang belajar dan berlatih, dan banyak dari mereka juga tampil dalam pertunjukan “Bambu Sore” yang dipentaskan setidaknya sekali, kadang dua kali, sehari.

Pertunjukan ini menarik ratusan pelajar dan turis setiap hari, sebagian karena pemasaran yang baik tetapi juga sebagian besar karena pengalaman unik dan menarik yang dihadirkan oleh salah satu pertunjukan ini.

Persimpangan Pendidikan Musik dan Diplomasi Budaya

Saya ingin menjelaskan lebih detail teknik-teknik yang diterapkan dalam segmen pertunjukan “Bambu Sore” ini, karena teknik-teknik tersebut biasa digunakan dalam upaya diplomasi budaya dan dapat dengan mudah diterapkan di kelas musik dunia.