Perjalanan Musik Keroncong Yang Ada Di Indonesia

Perjalanan Musik Keroncong Yang Ada Di Indonesia – Hampir keseluruhan generasi modern tidak mengenal musik Keroncong, yang ketinggalan zaman dan membuat sakit kepala. Melestarikan musik Keroncong hampir mendekati kepunahan, tidak tersentuh sama sekali industri musik saat ini.

Hanya segelintir masyarakat yang sudah memiliki umur diatas 50-an masih setia mendengarkan ‘laras’ Keroncong.

Dan siapa nyana Keroncong bukan asli musik Indonesia, adalah bangsa Portugis yang mengusung pada abad ke 12 saat datang ke tanah Jawa. Tetapi, mereka membawa bibit Keroncong pada abad ke 16, pada saat  Belanda menjajah ke Indonesia untuk menguasai Malaka (Ade Soekino, 1995, Pangeran Jayakarta). sbobet88

Pada abad ke 16 inilah, bangsa Portugis sebagai budak bebas jaman pendudukan Belanda di Indonesia yang bermukim sekitar Cilincing atau Kampoeng Toegoe membawa pengaruh fado ke Indonesia. Fado merupakan tradisi tutur dalam bermusik di Portugis. Di saat masa senggang mereka memainkan musik dan bernyanyi dengan irama yang lambat diikuti rajao (gitar kecil berdawai lima), biola, gitar, cello, dua jenis ukulele (cak dan cuk), rebana dan suling.

Perjalanan Musik Keroncong Di Indonesia

Keunikan Keroncong salah satunya yaitu mempunyai bunyi cak, cuk dan cello. Cak dan cuk-lah khas dari Keroncong ini dengan suara creng-crongnya, cak dan cuk pula yang merupakan evolusi dari croucho ini.

-Masa Keroncong Modern (1960-2000)

Perkembangan keroncong hanya pada daerah Solo dan sekitarnya, tetapi datang bermacam gaya baru yang berbeda dengan Masa Keroncong Abadi (termasuk musisinya), dan merupakan pembaruan sesuai dengan lingkungannya.

Mulai Masa keroncong modern (1960-2000) semua aturan baku (pakem) Musik Keroncong tidak berlaku, karena mengikuti aturan baku (pakem) Musik Pop yang berlaku universal, misalnya tangga nada minor, moda pentatonis Jawa/Cina, rangkaian harmoni diatonik dan kromatik, akord disonan, sifat politonal atau atonal (pada campursari), tidak megenal lagi pakem bentuk keroncong asli atau stambul, ada irama nuansa dangdut (congdut), mulai tahun 1998 musik rap mulai masuk (Bondan Prakoso), dlsb.

Berkembangnya musik Keroncong pesat di wilayah Jawa hingga melahirkan Langgam Jawa

Perpaduan musik asli Keroncong dengan sentuhan sitar dan gamelan lalu dinyanyikan dengan lagu-lagu bernuansa tradisional Jawa

– Langgam Jawa

Bentuk adaptasi keroncong terhadap tradisi musik gamelan dikenal sebagai langgam Jawa, yang berbeda dari langgam yang dimaksud di sini. Langgam Jawa memiliki ciri khusus pada penambahan instrumen antara lain siter, kendang (bisa diwakili dengan modifikasi permainan cello ala kendang), saron, dan adanya bawa atau suluk berupa introduksi vokal tanpa instrumen untuk membuka sebelum irama dimulai secara utuh. Tahun 1968 Langgam Jawa berkembang menjadi Campursari.

Umumnya mempunyai struktur lagu pop yaitu A – A – B – A atau juga A – B – C – D dangan jumlah 32 birama. Lagu Langgam Jawa yang populer sejak tahun 1958 adalah ciptaan Anjar Any (1936-2008):

Yen Ing Tawang Ana Lintang (Tawang dalam Bahasa Jawa berarti: awang-awang, langit, dan makna lain nama suatu desa di Magetan, Kalau di Langit Ada Bintang). Langgam Jawa terkenal pertamanya oleh Waljinah yang pernah meraih juara tingkat pendidikan SMP di RRI Solo tahun 1958.

Semenjak tahunnya revolusi Keroncong menjadi tonjolan musik perjuangan dengan melahirkan Maestro Gesang ‘Bengawan Solo’, sampai tercapailah perjalanannya musik Keroncong pun menerbitkan nama-nama Legendaris : Ismail Marzuki, Kusbini, Mantous, Tan Tjeng Bok,  Mus Mulyadi, Hasbi dan penyanyi wanita muda Sundari Soekotjo.

Perjalanan Musik Keroncong Di Indonesia

– Keroncong Beat

Dimulai oleh Yayasan Tetap Segar oleh Rudi Pirngadie, di Jakarta pada tahun 1959 dan dapat mengiringi lagu barat pop (mau melangkah lebih bersifat universal). Pada waktu itu Idris Sardi ikut tur ke New York World’s Fair Amerika Serikat dengan biola tahun 1964 dengan maksud mau memperkenalkan lagu pop barat (I left my heart in San Fransico, pada waktu itu tahun 1964 lagu ini merupakan salah satu hit di dunia) dengan iringan keroncong beat, namun dia kena denda melanggar hak cipta akibat tanpa izin.

Dengan Keroncong Beat maka berbagai lagu (bukan dengan rangkaian harmoni keroncong, termsuk kunci Minor) dapat dinyanyikan seperti La Paloma, Monalisa, Widuri, Mawar Berduri, dll.

– Campur Sari

Di Gunung Kidul (DI Yogyakarta) dimulai tahun 1968 Manthous mengenalkan gabungan musik gamelan dan musik keroncong, yang selanjutnya dikenal sebagai Campursari. Sekarang daerah Solo, Sragen, Ngawi, dan sekitarnya, dikenal sebagai pusatnya para artis musik campursari.

– Keroncong Koes-Plus

Koes Plus dikenal sebagai pemula musik rock di Indonesia, Dimulai sekitar tahun 1974 juga berjasa dalam musik keroncong yang rock. Keroncong Pertemuan adalah Keroncong Koes Plus dengan jenis bentuknya campuran (dalam bahasa Belanda dikenal vorm atau Inggris- combine form) antara Stambul II dengan langgam Keroncong.

– Keroncong Dangdut (Congdut)

Keroncong dangdut (Congdut) yaitu jawaban terhadap memuncaknya pengaruh musik dangdut dalam musik populer di Indonesia sejak 1980-an. Seiring dengan menguatnya campur sari di pentas musik populer etnis Jawa, sejumlah musisi, konon dimulai dari Surakarta, memasukkan unsur beat dangdut ke dalam lagu-lagu langgam Jawa klasik maupun baru. Didi Kempot adalah tokoh utama gerakan pembaruan ini. Lagu-lagu yang terkenal antara lain Stasiun Balapan, Sewu Kuto.

Masa Keroncong Modern adalah era kejayaan musik keroncong, di mana terdengar di mana-mana jenis musik yang telah disebut di atas seperti Langgam Jawa, Keroncong Beat, Campursari, koes Plus dan terakhir dengan Congdut dari Didi Kempot, hingga ke Suriname dan Belanda (2004-2008). Konon, ini merupakan puncak kejayaan Musik Keroncong, sehingga Gesang khawatir bahwa keroncong akan mati (2008, ucapan dia sebelum wafat).

– Masa Keroncong Millenium (2000-kini)

Walaupun musik keroncong di era millenium belum menjadi bagian dari industri musik pop Indonesia, tetapi beberapa pihak masih mengapresiasi musik keroncong. Keroncong Merah Putih, kelompok keroncong berbasis Bandung, masih cukup aktif melakukan pertunjukan. Selain itu, Bondan Prakoso dan grupnya Bondan Prakoso & Fade 2 Black, menciptakan komposisi berjudul “Keroncong Protol” yang berhasil memadukan musik gaya rap dengan musik latar belakang irama keroncong. Sejak tahun 2008, Solo Internasional Keroncong Festival, Harmony Chinese Music Group membuat suasana baru  dengan mencampurkan unsur alat musik tradisional Tionghoa dan memberinya nama Keroncong Mandarin.

Bahkan kini musik keroncong dapat dijadikan sebagai pertunjukan budaya di kancah internasional. Para turis yang berkunjung ke daerah seperti Yogyakarta, Jakarta, atau daerah Jawa lainnya selalu penasaran dan tertarik akan musik keroncong yang terkadang disajikan pada suatu konser besar, bahkan hingga pengamen jalanan saat ini sudah sangat kreatif dalam melakukan aksinya dengan mencampurkan musik keroncong dan jenis musik lainnya. Namun tak jarang juga saat ini anak-anak remaja kurang menyukai musik satu ini karena merasa tidak kekinian. Tetapi, kita harus tetap bangga dan melestarikan musik keroncong ini.

Grup Band Indonesia Di Dunia Internasional

Grup Band Indonesia Di Dunia Internasional – Perjalanan musik di Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat pada dua dekade terakhir ini. Hal ini juga yang mengakibatkan banyaknya musisi dan juga band yang semakin berani tampil dan memperoleh banyak prestasi besar dalam musik nasional atau Internasional.

Tidak sedikit juga banyak band dan juga musisi Indonesia yang memiliki prestasi di negara lainnya. Tentunya deretan musisi ini juga harus diberikan apresiasi dan didukung sepenuhnya. Kami sudah merangkumkan beberapa band yang melebarkan sayapnya sampai ke luar Indonesia dan memperoleh hasil prestasi yang membanggakan. Bisa jadi salah satunya adalah band idola kamu. slot88

1. Shaggy Dog

Grup Band Indonesia Di Dunia Internasional

Band asal Yogjakarta satu ini terbentuk di tahun 1997 ini terkenal di luar negeri. Band ini menyatakan bahwa musik yang dimilikinya beraliran Doggy Style, dengan perpaduan antara reggae, jazz, sia, sang dan juga musik rock. Nama band ini mulai berkiprak dan sering tampil pada konser musik di Eropa dan Amerika Serikat. Pada beberapa acara mjsik di Belanda juga seringkali mereka datangi untuk memperkenalkan musik yang mereka miliki. Sampai saat ini Shaggy Dog masih terbilang band yang eksis dan akan terus berkarir.

2. Mocca

Grup Band Indonesia Di Dunia Internasional

Perjalanan karir band Mocca memnag terus bersinar dan menguatkan dirinya sebagai salah satu band indie asal Indonesia yang telah diakui di luar negeri. Dengan lagu-lagu yang dibuatnya ke dalam bahasa Inggris ini menjadi modal utama untuk musik mereka semakin terkenal dalam penggemar barunya selain masyarakat Indonesia. Dengan menghadirkan sentuhan musik Jazz, kwee pop, dan suasana layaknya tahun 60-an sudah menjadi ciri khas dari grup band yang satu ini. Tidak mengherankan apabila Mocca mempunyai fans dan karier yang cukup baik di wilayah Asia dan Eropa. Perusahaan rekaman di Jepang telah mengadakan kontrak dengan band Mocca ini untuk memasukkan satu lagu pada album mereka dan terdapat juga iklan di Korea yang memakai lagu Mocca dan publik pun sangat menyukainya.

3. THE S.I.G.I.T

S.I.G.I.T adalah singkatan dari The Super Insurgent Group Intemperance Talent. Band yang dibentuk tahun 2002 ini menggunakan teknologi internet untuk mempromosikan karya-karya mereka. Ternyata salah satu label di Australia tertarik dan mengontrak mereka untuk membuat album versi Australia. Setelah itu karier band ini menanjak dan sering mendapat tawaran manggung di Australia, Amerika, dan Eropa.

4. White Shoes And The Couple Company

 Apabila kamu mendengarkan musik dariband ini, kamu akan merasakan nostalgia seperti jaman dulu. Ciri khas dari lagu yang dibawakan mereka adalah seperti lagu di tahun 70-an dengan dandanan retro yang menjadikan band tersebut sangat manis saat tampil di panggung. Sesudah menandatangani kontrak kerja sama dengan Minty Fresh Record yaitu sebuah label rekaman asal Amerika Serikat, Album White Shoes and The Couple Company pun di rilis di Amerika Serikat, Meksiko, Kanada, Australia, dan Jepang. Band ini menjadi semakin padat mendapat tawaran manggung di luar negeri.

5. Nidji

Mungkin para kaum milenial sudah tidak asing lagi dengan grup band yang satu ini. Band yang semakin meledak karena mengeluarkan single barunya berjudul Laskar Pelangi ini juga mulai menjajaki pasar Internasional. Telah dibuktikan bahwa mereka sukses dalam menelurkan album Victory Liberty yang juga memiliki kaitannya dengan klub pesepak bola Manchester Uniteed di Inggris dalam beberapa waktu lalu dan mengadakan konser Fly Fun With Nidji. Band ini juga seringkali diundang untuk dapat tampil di Australia dan sebagian negara Asia. Hal ini juga yang mengakibatkan salah satu provider Indonesia seperti Smartfren melakukan kerja sama dengan Nidji dalam membuat sayembara mengcover lagu Nidji yang aat itu diadakan pada bulan Februaru sampai bulan Mei 2016.

 6. Burgerkill Kamu yang anak metal pasti taulah sama Burgerkill.

Band yang berasal dari Bandung ini menggunakan genre Metalcore yang dipadukan dengan Death Metal. Perjalanan karir mengenai band yang satu ini dapat dikatakan memang cukup panjang. Sesudah mendapatkan tawaran dari label rekaman Indie di Malaysia pada tahun 1999, Burgerkill memperoleh dukungan dari Puma, yaitu salah satu produk olahraga ternama di Amerika sebagai artis endorsement.

Band ini juga seringkali tampil pada acara bergengsi di luar negeri dan seringkali beada pada satu panggung dengan band metal terpopuler lainnya seperti The Black Dahlia Murder, As I Lay Dying, dan Himsa. Prestasi yang mereka peroleh saat ini merupakan penghargaan dari Metal Hammer Magazine dalam kategori Metal As Fuck di Inggris yang mengalahkan band metal lainnya.

7. Superman Is Dead

Band yang berasal dari Bali ini mulai populer di publik secara luas sesudah mengeluarkan albumnya yang ke 4, Kuta Rock City yang telah dirilis oleh Sony BMG di tahun 2003. Padahal album pertama yang mereka keluarkan sudah tersebar luas ke Australia terlebih dahulu di tahun 1997. Dengan memakai lirik lagu bahasa Inggris dan musik yang iramanya keras namun mudah didengar, menjadikannya tidak sulit untuk SID diterima secara positif oleh penggemar musik.

Mereka juga menyampaikan pesan yang positif dan berjiwa nasionalisme dalam beberapa lagu yang mereka ciptakan. Di tahun 2009 SID, telah sukses mendapatkan kesempatan dalam melakukan konser pada 16 kota di Amerika Serikat. Sebuah konser yang menjadi ajang promosi pulau Bali dan Indonesia diterima dengan sangat positif. Jadi tunggu apa lagi?

Dengan adanya kehadiran Generasi 4G yang memudahkan geerasi muda di Indonesia dalam membentuk kreativitasnya. Teknologib ini dapat dimanfaatkan dengan baik untuk membuat karya yang mengharumkan nama bangsa, bisa dimulai dengan mencoba mengcover salah satu lagu dari Nidji. Siapa tau kalian akan menjadi famous di dunia perYoutube-an. keren banget kan! Kalo 7 band di atas saja bisa berkarya dan berprestasi, kenapa kita nggak?

Kalo kamu pengen liat beberapa band tadi di acara lokal, mungkin kamu bisa ikutan gabung di acara roadshow #Generasi4G day yang digelar oleh Smartfren meliputi 4 kota yaitu Bekasi (Summarecon Mall) 3 April, yogyakarta (Jogja City Mall) 17 April, Bandung (Cihampelas Walk Bandung) 1 Mei, dan Surabaya (Surabaya Town Squre). Dalam acara itu bakal ada bagi-bagi 100 Andromax gratis dan penampilan band idola kamu Nidji, Mocca, dan penyanyi cantik Raisa.

8. Sore

Band beraliran psycedhelic yang beranggotakan 5 pria ini

bisa dibilang cukup unik, semua personilnya memainkan alat secara kidal. Band asal Jakarta yang telah menelurkan dua album ini pernah tampil di Malaysia dan berhasil memikat para penonton di sana. Bahkan, Majalah TIME Asia memasukkan nama Sore ke dalam daftar “Lima Band Asia yang Albumnya Layak Dibeli”.

9. The Trees And The Wild

Band indie pop asal Bekasi ini berangkat ke Eropa kemarin Selasa 18 September 2012. Mereka dijadwalkan akan menggelar konser di 7 kota di beberapa negara, diantaranya Hamburg, Helsinki, Telakka, Tampere, Tartu, Tallinn.

Sejarah Hadirnya Musik Dangdut Di Tanah Air

Sejarah Hadirnya Musik Dangdut Di Tanah Air – Saat ini musik terdiri dari berbagai macam  genre. Namun dari negara kita Indonesia ini, musik dangdut lebih khas dikenal oleh masyarakat luas. Segala usia saat ini menyukai musik dangdut, bahkan tak jarang penyanyi pop saat ini mencampurkan alunan lagu popnya dengan musik dangdut. Untuk lebih lengkapnya mari kita simak tentang sejarah dan perkembangan musik dangdut indonesia.

Musik populer yang namanya diambil dari suara kendang, alat musik serupa tabla di India tetapi lebih sederhana, memang terbukti hingga saat ini tak lekang oleh zaman. Oma Irama (71) adalah sosok seniman genius yang namanya akan selalu lekat dengan bentuk kesenian ini. Jika saat ini orang mengenal dia sebagai Rhoma Irama itu adalah sebutan kehormatan bagi dia dengan menyertakan dua kata ‘raden’ dan ‘haji’ di depan namanya. Rhoma Irama, lepas dengan segala kekurangannya, adalah sosok penyanyi, komposer, pencari bakat, produser musik dan film, ideolog, hingga pelestari musik dangdut yang namanya mungkin akan selalu dicetak dalam tinta emas sejarah Indonesia. http://www.shortqtsyndrome.org/

Sejarah Hadirnya Musik Dangdut Di Tanah Air

Mathew Cohen (2006), peneliti seni pertunjukan Indonesia mencatat, leluhur musik dangdut berasal dari orkes keliling yang melawat dari Malaya (Malaka), kemudian Medan, Singapura, Bukittinggi, Jakarta, Semarang, hingga Surabaya. Pertunjukan orkes keliling itu dikenal dengan nama Stambul, sebuah penamaan yang identik dengan budaya kosmopolitan di akhir abad 19 yang dekat dengan warna-warna klasik Imperium Usmaniah dengan ibu kotanya, Istambul.

Orkes-orkes ini memainkan musik dengan seperti yang biasa dipertunjukkan dalam pentas-pentas di London, Paris, Istambul, Damaskus, hingga Kairo yang memadukan mini orkestra, dengan biola, picolo, piano, gitar, akordeon, dan tambur tentu saja dengan aksentuasi Melayu. Di Jakarta para pemain orkes bereksperimen dengan musik-musik rekaman dari India dan mencampurkan cengkoknya dengan nada Melayu.  Lagu-lagu semacam “Selayang Pandang”, yaitu hasil dari iklim Melayu-Deli yang diputar di Medan-Malaya. Sedangkan lagu seperti “Terajana” dan “Purnama” adalah warna-warna India yang berkembang di Jakarta. Sementara itu, “Seroja” yang dibawakan oleh penyanyi berdarah Hadramaut, Said Effendi, asal Bondowoso, memberi warna padang pasir. Bagi generasi 80-an hingga 90-an, siaran radio legendaris dari ABC Australia yang biasa dibawakan oleh Nuim Haiyat adalah pengobat rindu diputarnya lagu-lagu ini.

Hingga munculnya politik konfrontasi dengan Malaysia, pada periode awal 60-an, sesungguhnya pertalian ekspresi kebudayaan dua bangsa serumpun adalah saling memajukan satu sama lain. Setelah pelarangan lagu barat dan lagu ngak-ngik-ngok, muncullah sekat-sekat pemisahan.

Zaman Klasik

Ciri khas musik dangdut generasi yang pertama dari penyanyi dan seniman yang mulai maju di tahun 50-60-an adalah irama yang mereka sebut sebagai ‘chalte’. Chalte atau calte adalah irama memukul gendang gaya India yang bisa dicermati dengan bunyi ‘tak-tung, dang-dut, …. tak-tung, dang-dut’. Cara memukul gendang seperti ini yang paling banyak didapati dalam rekaman-rekaman artis, seperti Ellya Khadam, A Rafiq, Ida Laila, Oma Irama.

Sejarah Hadirnya Musik Dangdut Di Tanah Air

Rhoma Irama-lah yang menasbihkan kata ‘dangdut’. Lagu “Terajana” adalah cara Rhoma Irama membalas cemoohan dari kelompok lain yang menganggap musiknya kampungan. “Dangdut suara gendang … rasa ingin berdendang..” Petikan lagu itu adalah kata yang pertama muncul istilah dangdut yang kemudian menjadi label pada genre ini.

Jika warna irama melayu masih kental dalam rekaman lagu-lagu Meggy Zakaria, pada periode 60-70-an, Rhoma Irama tidak berhenti di sana. Kembali pada dialog dengan grup-grup musik lain yang bergenre hard rock atau funk, Rhoma Irama mencampurkan komposisi musiknya dengan sentuhan perkusi John Bonham dari Led Zeppelin dalam lagu “Pertemuan” atau sayatan gitar Ritchie Blackmore dalam lagu “Ghibah”.

Rekaman dan Pita Kaset

Memasuki masa 80-an hingga 90-an  kepeloporan Rhoma Irama masih sangat kuat, tetapi karena keputusannya untuk mengambil sikap politik yang berbeda membuat dia tidak bisa tampil di televisi nasional. Pada periode inilah musik dangdut yang dibawakan oleh Meggy Zakaria, Mansyur S, Muhsin Al Atas, Elvy Sukaesih, hingga Camelia Malik mengisi popularitas di televisi.

Kembali ke Komunitas

Sebenarnya ada berbagai macam perubahan dalam dunia musik rekaman sebelum kemunculan kategori dangdut ini. Periode 80-an hingga 90-an awal adalah periode keemasan dunia musik rekaman yang menggunakan pita kaset. Perkembangan teknologi komputer belum cukup berkembang membuat para penikmat lagu dangdut harus mendengarkan radio dan membeli kaset untuk mendapatkannya. Belakangan, media rekaman berkembang menjadi kepingan Compact Disc.

Genre dangdut koplo sebenarnya berawal dari masa transisi ini. Ketika kaset rekaman, atau keping CD rekaman tidak lagi bisa mendongkrak penjualan para musisi dangdut di daerah-daerah mau tidak mau harus mempunyai kiat-kiat khusus dalam mendongkrak penghidupan mereka. Karena dunia rekaman tidak menjanjikan keuntungan yang memadai seniman-seniman musik dangdut di daerah-daerah mengembangkan cara-cara khas dalam memasarkan produk mereka.

Yang pertama, alih-alih memusuhi pembajakan lagu melalui keping CD, grup-grup di daerah malah mendorong agar para pembajak lagu merekam pertunjukan keliling mereka dan menyebarkannya ke seluruh Indonesia.

Yang kedua, kembali pada kiat lama, dunia musik hiburan hanya akan bertahan dengan safari pertunjukan keliling di berbagai kota. Yang ketiga, mengembangkan komunitas, semangat kolaborasi antara musisi, seniman, artis penyanyi, produser, hingga kordinator penggemar ternyata menjadi alat pemasaran yang paling cocok dengan perkembangan jaman. Jejaring penggemar melalui media sosial lebih memperkuat tradisi pengembangan komunitas ini.

Yang keempat, mengembangkan satu genre yang bisa memasukkan seluruh unsur kreativtias populer yang mudah dikenal masyarakat. Pengembangan cara memukul gendang dangdut dengan warna lokal memunculkan genre baru yang kemudian dikenal sebagai Dangdut Koplo atau Kendang Kempul pada masa awal kemunculannya.

Yang kelima, memunculkan artis-artis muda potensial, dengan penampilan dan gaya yang bersahaja, tidak glamor, dan cenderung tidak kontroversial. Kiat-kiat inilah yang membuat genre paling mutakhir ini terbukti menjadi genre yang paling bisa diterima oleh semua kalangan dan memunculkan bintang-bintang terkenal yang baru.

Saat dunia musik rekaman tidak mampu memunculkan artis-artis yang potensial karena sulitnya mendapatkan pendapatan dari hasil penjualan hasil rekaman, genre dangdut koplo, dengan kiat-kiat kembali ke komunitas, kembali menjadi jawaban atas kelesuan industri rekaman.

Salah satu yang menjadi artis terkenal, hampir tanpa kelebihan dunia televisi atau radio, adalah artis dangdut Sodik Monata. Penyanyi berambut gimbal yang pernah menjadi tukang becak ini memulai karir di rombongan orkes musik koplo sebagai kuli angkut sound system.

Dalam perkembangannya kemudian ternyata dia bisa menjadi petugas check sound. Dan karena dia mempunyai suara dan kemampuan menyanyi yang khas, penonton pertunjukan mendaulat Sodik menjadi pembawa lagu.Ketekunan menjalani pentas pertunjukan dari kota ke kota hingga ke pelosok desa disertai kemunculan dalam VCD rekaman bajakan yang diputar di berbagai terminal bis atau pelabuhan-pelabuhan dan pangkalan-pangkalan truk membuat popularitas Sodik meroket.