Album Terbaik Indonesia 2019

Album Terbaik Indonesia 2019 – Di tahun 2019 lalu hampir tidak memiliki kejutan yang begitu berarti pada skema musik lokal. Seluruhnya berjalan dengan datar, hip hop terus berupaya dalam menegaskan eksistensinya, folk mulai kehilangan ketenarannya dan pop sudah mencoba meraih pasarnya yang baru.

Hal yang sama juga terjadi pada rilisan album. Hamoir tidak ada kehadiran yang berkesan seperti pada saat Melancholic Bitch meluncurkan NKKBS Bagian Pertama dua tahun yang lalu atau ketika Efek Rumah Kaca mengeluarkan Sinestesia dan Silampukau melepas Dosa, Kota, Band-band tak ubahnya seperti bergerak dalam senyap.

Meski demikian, kancah musik lokal tetap bergemuruh. Dan berikut  album terbaik yang menggambarkan gemuruh itu sepanjang jalannya 2019. http://111.221.46.189/

Vira Talisa, Primavera

Album Terbaik Indonesia 2019

Sosok Vira Talisa sudah mencuri perhatian khalayak sejak mengunggah karya-karya cover-nya di kanal Soundcloud sekitar dua-tiga tahun lalu. Kendati hanya bermodal perkakas akustik, Vira tetap tampil maksimal. Suaranya renyah, meneduhkan, sekaligus membuai telinga. Berkat itu, popularitasnya cepat melambung.

Kiprahnya dalam bermusik semakin memperoleh legitimasi tatkala ia merilis album debut bertajuk Primavera. Kali ini, Vira tak ingin setengah-setengah. Ia bukan lagi Vira yang tampil ala kadarnya seperti yang publik dengar di Soundcloud. Dalam Primavera, Vira adalah primadona di dunianya sendiri.

Sementara untuk Vira dan Primavera juga telah dibangun karena keriaan musim panas, romantisme Cannes termasuk sensibiltas dalam menangkap waran musik pop Perancis tahun 1960 ala  Françoise Hardy yang catchy. Terdapat 8 lagu dari Bunga, Janji Wibawa, hingga Down In Vieux Cannes yang mempresentasikan tiga hal tersebut dengan baik. Saat di sore hari yang cerah, kamu memutuskan untk mengelilingi kota dengan sepeda. Menjauhkan diri sementara dari padatnya rutinitas yang membuat kepala sangat penat dan begitu membosankan. tidak dapat tidak, lagu Vira merupakan teman perjalanan tersebut.

The Adams, Agterplaas

Album Terbaik Indonesia 2019

Sesudah dua album pertama yang sudah dirilis, hampir tidak ada pembaharuan yang ditawarkan The Adams. Susunan setlist pada setiap pementasan tetap sama, Halo Beni menjadi lagu pemantik koor secara mssal dan konservatif yang selalu diputar pada babak penutup. Hingga pada akhirnya, di pertengahan Maret silam, The Adams melakukan upaya untuk memutus kebiasaan dengan melepaskan album barunya yang berjudul Agterplaas.

Tapi, perjalanan dalam menghadirkan Agterplaas tak semudah yang dibayangkan. Tiga belas tahun berlalu hingga album ketiga ini hadir di tengah kerinduan dan penantian.

Beruntungnya, penantian tersebut terbayar tuntas. The Adams berhasil menyajikan apa yang telah menjadi karakternya: power pop yang menyenangkan. Gebukan Gigih masih bertenaga. Saleh dan Ario berbagi peran dengan sama baiknya dan tak berebut panggung. Pandu memberi sentuhan yang menggugah selera.

Perbedaan yang mencolok terletak pada penulisan lirik. Kali ini tak ada lagu untuk kencan di Kota Tua, suka cita menyambut pesta, atau tangis yang pecah akibat ditinggal saat sedang sayang-sayangnya. Agterplaas adalah saksi atas quarter life crisis, hidup berkeluarga, dan pertanyaan: mau apa setelah ini?

The Adams melaluinya dengan menawan.

Zoo, Khawagaka

Berbicara mengenai musik eksperimental Indonesia, kamu wajib menyebutkan nama Zoo, kuartet yang berasal dari Yogjakarta dengan anggota yang terdiri dari Rully Shabara, Bhakti Prasetyo, Ramberto Agozali, dan Dimas Budi Satya.  Mereka merupakan dedengkot musik eksperimental yang karirnya selelu mengundang rasa kagum. Musik menurut pendapat Zoo tidak hanya sekedar mengolah nada ataupun harmoni. Ia juga telah melibatkan tradisi, budaya, dan artefak sejarah yang tertimbun masa. Upaya seperti ini digapainya sejak 2009, ketika mereka melepas Trilogi Peradaban, dan selanjutnya berlanjut pada prasasti tahun 2012 sampai Samasthamarta tahun 2015. Tiga album tersebut menjadi lintasan waktu Zoo dengan melakoni pencarian tentang sisa-sisa warisan leluhur di dalam bentuk prasati ataupun manuskrip yang kuno.

Album Khawagaka semakin menyempurnakan ekspedisi itu. Di album barunya, Zoo menawarkan keliaran yang paripurna. Kedahsyatan vokal Rully, yang terdengar seolah sedang merapal mantra suci, berkelindan raungan melodi yang abstrak serta ketukan-ketukan ganjil dari alat perkusi.

Isyana Sarasvati, LEXICON

Penyanyi cantik asal Indonesia memberikan kejutan pada saat menjelang tahun 2019 waktu itu dengan menutupnya melalui album berjudul LEXICON. Kemewahan yang menjadi kesan pertama ditangkap pada saat memutar seluruh lagu yang ada di dalamnya. Album LEXICON ini menyediakan musik pop yang begitu sangat dinamis dan tidak hanya sekedar bersuara di pasar. Musik pop bisa menjadi berada di posisi luar kebiasaan untuk label besar. Pada album ini ditunjukkan bahwa Isyana tidak hanya pintar dalam menyanyi saja, namun juga pandai dalam menyusun aransemen.

Kolaborasinya dengan piano klasik sangatlah indah dengan dihadirkannya nada-nada yang begitu berwarna. Bahkan pada album tersebut, Isyana telah sukses mendobrak jarak tradisinya yaitu meleburkan pop dengan alunan rock yang memiliki tempo cepat. Saat dibayangkan, mungkin akan sangat indah apabila Isyana membawakan konser tunggal di sebuah panggung yang besar dan membawakan seluruh lagu LEXICON dengan iringan gesek ataupun choir yang keren. Apabila itu benar-benar terwujud, banyak sekali orang-orang yang akan membiring tiketnya segera.

Doyz, Demi Masa

Apa jadinya bila dua veteran hip hop lokal memutuskan turun gunung untuk membikin karya bersama? Apa yang akan terjadi apabila dua veteran hip hop asal lokal ini memutuskan untuk turun gunung demi membuat karya bersama?

Pada album yang mungkin dalam dua dekade telah dinobatkan sebagai magnum opus skena hip hop asal lokal. Demi masa depan yang digarap oleh Doyz dan Margue Vanguard atau yang dapat dikenal dengan Herry Sutresnya dan lebih akrab dipanggil Uck. Keduanya bisa dibilang pelopor hip hop di Indonesia. Ucok, seperti kita tahu, mekar bersama Homicide.Sedangkan Doyz sempat menduduki genre hip hop dengan entitas Blakumuh serta P-Squad. Jumlah 12 lagu yang termasuk ke dalam Demi Masa menjadikannya arena kedua Ucok dan Doyz untuk dapat saling bertukar pikiran karena perkara individu hingga politis.  Rima mereka meluncur dengan deras layaknya sebuah kanon yang menyerang rezim tiran, korporasi rakus, aparat brengsek, dan macam-macam bani penindas lainnya.

Rich Brian dan The Sailor memang menyilaukan mata. Tapi, Demi Masa jauh terasa lebih relevan.

Jirapah, Planetarium

 Begitu lama tidak mendengar kabarnya, seperti bagaimana band-band independen asal Indonesia di tahun 2000-an, Jirapah telah kembali datang dengan membawakan persembahan barunya bernama Planetarium. Planetarium merupakan wahana dimana kamu dapat menikmati perjalanan luar angkasa dengan waktu yang semaunya. Kamu tidak perlu SpaceX ataupun NASA untuk terbang mengitari semesta. Kamu hanya perlu memutar semua lagu di Planetarium, dan percayalah senasi luar angkasa akan terbayang di kepala anda. Dibandingkan dengan karya yang sebelumnya,, Planetarium ini terdengar lebih matang baik pada sisi penulisan lirik yang memakai bahasa iNdonesia ataupun secara musikalitas. Kolaborasi progresi dalam nada yang ganjil termasuk  eksplorasi atas sound  yang tidak lazim sudah melahirkan lanskap sureal pada setia lagi Jirapah sendiri. Komposisi bahan seperti Menapak, Nafas, hingga Menjamur adalah gambaran terbaik yang dimilikinya.

Bila Anda butuh eskapisme, Planetarium menyediakannya secara paripurna.